Tanggapan Artikel: Bisnis digital = Bisnis perasaan.
Emosi atau perasaan memang telah menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Hal-hal ini sebenarnya sah-sah saja. Selama orang yang ”membeli” perasaan itu merasa apa yang didapatkannya sepadan dengan apa yang diberikannya. Sehingga ada hubungan timbal balik yang terjadi hingga mampu saling menguntungkan satu sama lain.tentu saja, hal ini menuntut tanggung jawab dari para pelaku bisnis.
Sebagai contoh, proses jual beli perasaan yang tidak membawa kesejahteraan adalah salah satu raksasa teknologi informasi yang menanamkan ketergantungan terhadap produk-produknya. Membanjirnya segala media dengan berbagai iklan. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan ini tidak segan-segan melaksanakan taktik menghancurkan pesaing. Adapula perusahaan yang dengan sengaja memanipulasi opini publik terhadap isu-isu sosial demi mendongkrak kedudukan pihak-pihak yang terafiliasi dengan mereka alias mempolitisasi pasar. Pada akhirnya, yang memiliki andil adalah konsumen yang memiliki hati dan pikiran yang bijak dalam menentukan sikapnya.
Saya tertarik dengan artikel ini, dimana minggu yang lalu dalam pertemuan kuliah, sempat dijelaskan oleh Mner Odi mengenai bisnis yang melibatkan perasaan. Saya mengutip kalimat dalam artikel ini yaitu ”perasaan telah terbisniskan oleh perangkat digital”. Keberadaan teknologi informasi seperti internet seperti membuat dunia tanpa batas di dunia maya. Berbisnis tidak lagi harus dengan modal yang besar, namun bila dijalani dengan tekun bisa menghasilkan pemasukan setiap waktunya. Bisnis digital dengan memanfaatkan sarana internet memperluas relasi berbisnis dan tentu konsumen. Konsumen pada dasarnya condong mengikuti trend yang berkembang pada penjualan produk digital seperti handphone, netbook, ataupun laptop dan produk-produk lainnya. Menurut saya, sebenarnya sebagian menganggap sebagai sebuah kebutuhan bila memiliki produk smart digital, namun yang lainya ada yang hanya mengikuti trend yang berkembang. Tidak mengapa sebab yang diuntungkan sebenarnya pelaku bisnis yang menjual produk digitalnya.
Menarik bagi saya membaca bagian artikel yang mengatakan bahwa “perasaan telah dielaborasi menjadi objek pemasaran”. Ternyata perasaan membawa dampak luar biasa bagi perkembangan bisnis digital. Membaca artikel ini saya ingat dengan tayangan televisi beberapa bulan lalu yang menayangkan berita seorang prita yang karena curhatnya lewat e-mail ke teman-temannya lantas harus dilaporkan ke polisi karena dianggap mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit swasta di jakarta. Apa yang dialami prita dan ungkapannya perasaannya di media massa ternyata menggugah perasaan masyarakat yang menonton tayangan berita tersebut. Di satu sisi yang muncul adalah banyaknya dukungan baik secara moril maupun materil bagi prita. Tentu ini positif bagi seorang prita. Bukan saja prita sebagai narasumber berita tapi juga bagi media massa, cetak dan elektronik. Imbasnya mereka juga diuntungkan dari pemberitaan tersebut. Belajar dari kasus diatas ternyata keamanan saat kita berinternet ataupun mengirim e-mail juga hendaknya diperhatikan.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Mner Odi bahwa dalam upaya mengimplementasi bisnis digital dibutuhkan ”kemauan dan kemampuan”. Bagi saya seperti ungkapan yang berkata dimana ada kemauan disitu ada jalan. Berbisnis untuk menghasilkan keuntungan lewat medium internet bisa dilakoni oleh siapa saja asalkan ada 2 faktor diatas disamping faktor-faktor pendukung lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar